"Mana ada orang yg tahan melihat kekasihnya berduaan dengan seorang gadis cantik di dalam sebuah ruangan?"
Seruku tanpa melihat matanya.
"Dia itu bawahanku. Aku tak pernah ada main dengan orang lain."
"Ah. Selama ini memang tak pernah. Tp bisa jadi kan? Lagipula dy gadis yg cantik. Mana ada laki-laki yg tak menginginkan dy?" Sergahku padanya.
"Ah, kau ini sebenarnya cemburu padaku atau cemburu pada kecantikan gadis itu?" Skak mat.
Aku mulai berfikir ttg kecemburuanku. Biasanya aku tak pernah peduli jika kekasihku berduaan dengan wanita. Tp kali ini rasanya berbeda. Wanita itu begitu cantik. Begitu polos. Ah andai aku bisa seperti dy.
"Tidak, aku tk pernah cemburu pada kecantikannya." Aku menutupi sebuah kebohongan.
"Kau tahu? Secantik apapun dy. Aku tak akan pernah tergoda. Meski kamu tak seperti dy. Aku bahagia memilikimu. Aku bahagia menjalani hidup kita. Aku bahagia karena kamu selalu ada buatku" Satu kecupan mesra mendarat di keningku.
Ah, aku benci diperlakukan seperti ini.
"Nggak ngambek lagi kan? Ayok. Aku kenalin sama mama. Mumpung mama ada dirumah." Dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan ibunya.
"Ma, kenalin. Ini temenku."
"Oh, temennya Seno? Siapa namanya?"
"Eza, tante. Fahreza."
Monday, October 5, 2015
Thursday, February 12, 2015
A Lemon Night
Sudah hampir satu jam aku di kamar ini. Bersamanya, di malam tepat 8 bulan setelah kami memutuskan berkomitmen untuk sesuatu yg lebih serius.
Kulihat dia, dengan wajah serius sedang berkutat dengan komputernya. Dengan setumpuk kertas yg masih tergeletak disamping meja kerjanya. Katanya masih ada pekerjaan menumpuk yg harus ia kerjakan. Dia membuka lembar demi lembar kertas yg menumpuk tadi, dibaca, lalu jemarinya mulai bergerak diatas keyboard komputernya, berkali-kali. Dan dia mengacuhkanku.
Kualihkan pandanganku ke rak buku yg ada di samping meja kerjanya. Kutelusuri jajaran buku disana, berharap ada buku menarik yg bisa kubaca.
Ah, aku benar2 tak tertarik membaca satu bukupun. Tak ada novel romantis, tak ada komik yg berjajar, atau mungkin beberapa buku tentang psikologi. Yang kulihat hanya sederet buku nasionalisme, buku tentang keuangan maupun buku kewirausahaan. Aku benar-benar bosan menunggu.
Aku mencari perhatiannya.
Kukatakan aku lapar. Dia hanya bilang, "Kalau lapar, makan, sayang. Di depan ada yg jualan bakso. Uangnya ada di dompet di atas lemari" Tanpa melepaskan pandangan dari komputernya.
Lalu, ku gulingkan badanku ke kiri dan kanan. Dan dia bilang.
"Ngapain? Kalau mau tidur, tidur yg bener." Dia masih saja tak melihatku.
"Aku ingin kamu. Aku ingin pelukan." Jeritku dalam hati.
Lalu, ku coba memutar lagu-lagu kesukaannya. Dia tetap tak bergeming. Jemarinya masih sibuk menari diatas keyboard, dan matanya masih tetap lekat memandang layar komputer.
Aku bosan. Lalu kupeluk ia dari balik punggungnya. Tangan kirinya memegang tanganku yg melingkar di pinggangnya. Sedangkan tangan kanannya masih saja menelusuri keyboard.
Dia mencium pipi kananku. Dia bilang, " i'll finish my work then I am yours, okay dear?" Katanya untuk membujukku yg dari tadi hanya cemberut.
"Okay. Do it quickly." Kataku akhirnya. Pasrah.
Setengah jam berlalu, belum terlihat jika pekerjaannya akan selesai.
45 menit kemudian. Lalu satu jam. Ah. Aku benar-benar tak tahan.
"Ngapain tadi minta aku kesini kalo kamu cuma berkutat sama komputermu." Kataku sinis.
"Udah dua jam aku disini dan kamu masih aja memandangi layar itu. Aku bosan." Kuberi penekanan pada kata bosan.
"At least ajak aku bicara. Kalo emang kamu mau fokus nyelesain pekerjaanmu dan tak ingin diganggu, jangan ajak aku kesini. Kamu tahu kan aku bosan kalo nggak ada yg bisa aku kerjakan. Lebih baik aku pu..."
Kalimatku menggantung. Bibirnya sudah menyentuh bibirku, tepat ketika aku mengatakan bahwa aku ingin pulang.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu malam ini." Lalu ia memelukku. Erat.
Dia mencium keningku. Ah, aku tahu dia tak ingin aku pulang.
"I've finished my work. Then?"
"You're mine."
Lalu dia kembali mencium bibirku. Kali ini lebih terasa lembut dan hangat.
"If you didn't finish your work, I planned to kill you" kataku padanya yg memandangiku dengan senyum di bibirnya.
"Kalo kamu bunuh aku, siapa yg mau nyuekin kamu? Siapa yg mau meluk kamu kalo lagi nangis? Yg beliin kembang gula?"
Dia melirikku sambil memainkan alisnya naik turun, menggodaku.
"Nyebelin."
Dan kami menghabiskan malam itu berdua, dengan aroma lemon didalam kamarnya.
Kulihat dia, dengan wajah serius sedang berkutat dengan komputernya. Dengan setumpuk kertas yg masih tergeletak disamping meja kerjanya. Katanya masih ada pekerjaan menumpuk yg harus ia kerjakan. Dia membuka lembar demi lembar kertas yg menumpuk tadi, dibaca, lalu jemarinya mulai bergerak diatas keyboard komputernya, berkali-kali. Dan dia mengacuhkanku.
Kualihkan pandanganku ke rak buku yg ada di samping meja kerjanya. Kutelusuri jajaran buku disana, berharap ada buku menarik yg bisa kubaca.
Ah, aku benar2 tak tertarik membaca satu bukupun. Tak ada novel romantis, tak ada komik yg berjajar, atau mungkin beberapa buku tentang psikologi. Yang kulihat hanya sederet buku nasionalisme, buku tentang keuangan maupun buku kewirausahaan. Aku benar-benar bosan menunggu.
Aku mencari perhatiannya.
Kukatakan aku lapar. Dia hanya bilang, "Kalau lapar, makan, sayang. Di depan ada yg jualan bakso. Uangnya ada di dompet di atas lemari" Tanpa melepaskan pandangan dari komputernya.
Lalu, ku gulingkan badanku ke kiri dan kanan. Dan dia bilang.
"Ngapain? Kalau mau tidur, tidur yg bener." Dia masih saja tak melihatku.
"Aku ingin kamu. Aku ingin pelukan." Jeritku dalam hati.
Lalu, ku coba memutar lagu-lagu kesukaannya. Dia tetap tak bergeming. Jemarinya masih sibuk menari diatas keyboard, dan matanya masih tetap lekat memandang layar komputer.
Aku bosan. Lalu kupeluk ia dari balik punggungnya. Tangan kirinya memegang tanganku yg melingkar di pinggangnya. Sedangkan tangan kanannya masih saja menelusuri keyboard.
Dia mencium pipi kananku. Dia bilang, " i'll finish my work then I am yours, okay dear?" Katanya untuk membujukku yg dari tadi hanya cemberut.
"Okay. Do it quickly." Kataku akhirnya. Pasrah.
Setengah jam berlalu, belum terlihat jika pekerjaannya akan selesai.
45 menit kemudian. Lalu satu jam. Ah. Aku benar-benar tak tahan.
"Ngapain tadi minta aku kesini kalo kamu cuma berkutat sama komputermu." Kataku sinis.
"Udah dua jam aku disini dan kamu masih aja memandangi layar itu. Aku bosan." Kuberi penekanan pada kata bosan.
"At least ajak aku bicara. Kalo emang kamu mau fokus nyelesain pekerjaanmu dan tak ingin diganggu, jangan ajak aku kesini. Kamu tahu kan aku bosan kalo nggak ada yg bisa aku kerjakan. Lebih baik aku pu..."
Kalimatku menggantung. Bibirnya sudah menyentuh bibirku, tepat ketika aku mengatakan bahwa aku ingin pulang.
"Maaf karena sudah mengabaikanmu malam ini." Lalu ia memelukku. Erat.
Dia mencium keningku. Ah, aku tahu dia tak ingin aku pulang.
"I've finished my work. Then?"
"You're mine."
Lalu dia kembali mencium bibirku. Kali ini lebih terasa lembut dan hangat.
"If you didn't finish your work, I planned to kill you" kataku padanya yg memandangiku dengan senyum di bibirnya.
"Kalo kamu bunuh aku, siapa yg mau nyuekin kamu? Siapa yg mau meluk kamu kalo lagi nangis? Yg beliin kembang gula?"
Dia melirikku sambil memainkan alisnya naik turun, menggodaku.
"Nyebelin."
Dan kami menghabiskan malam itu berdua, dengan aroma lemon didalam kamarnya.
Friday, November 28, 2014
Seperti Roket
Bukankah sakit? Ketika kau mulai menyukai seseorang lalu mendapati Ia telah berkasih. Lebih memilih orang lain tanpa peduli perasaanmu.
Tapi memangnya aku siapa? Hingga ia harus tahu perasaanku? Pentingkah aku? Kurasa tidak.
Ah, andai rasa sukaku tak berkembang. Andai aku hanya menganggapnya sebagai kawan. Mungkin aku tak akan sekalut ini. Tak akan merasa sakit meski ia berdua dengan kekasihnya. Tak akan memandangi namanya di layar hapeku. Dan tak pernah mengharap satu pesan muncul darinya.
Jika suka tak bisa dicegah, siapa yang harus kusalahkan? Dia? Yg tak pernah tau bahwa rasa sukaku melesat terlalu pesat.
Aku? Yg tak pernah berencana menyukainya sedikitpun.
Atau rasa sukaku? Yg tak pernah memilih kepada siapa ia berlabuh.
Ah, sudahlah. Mungkin Tuhan punya rencana yg lebih indah.
Memang ada saatnya Tuhan memberikan bahagia, dan ada saatnya Dia memberi duka.
Tapi memangnya aku siapa? Hingga ia harus tahu perasaanku? Pentingkah aku? Kurasa tidak.
Ah, andai rasa sukaku tak berkembang. Andai aku hanya menganggapnya sebagai kawan. Mungkin aku tak akan sekalut ini. Tak akan merasa sakit meski ia berdua dengan kekasihnya. Tak akan memandangi namanya di layar hapeku. Dan tak pernah mengharap satu pesan muncul darinya.
Jika suka tak bisa dicegah, siapa yang harus kusalahkan? Dia? Yg tak pernah tau bahwa rasa sukaku melesat terlalu pesat.
Aku? Yg tak pernah berencana menyukainya sedikitpun.
Atau rasa sukaku? Yg tak pernah memilih kepada siapa ia berlabuh.
Ah, sudahlah. Mungkin Tuhan punya rencana yg lebih indah.
Memang ada saatnya Tuhan memberikan bahagia, dan ada saatnya Dia memberi duka.
Tuesday, April 1, 2014
#Akurapopo
Bagi saya, stress itu sederhana. Lihat temen-temen seangkatan udah banyak yang lulus, dan saya masih mikirin chapter 3, yeah #akurapopo. Dan malam ini, stress saya datang lagi. Chapter 3 yang masih terbengkalai dalam satu folder, dan hanya 20% done. Kertas referensi yang menumpuk di sudut kamar tanpa saya buka, bukan karena saya tak ingin tapi saya hanya tidak tahu apa yang harus saya tulis. jika saya mulai dengan statement salah satu expert, saya harus punya beberapa expert lagi untuk mendukung statement itu. Ah, skripsi memang tak segampang ngerjain makalah di awal semester.
Stress itu sederhana. Kuliah yang seharusnya bisa diselesaikan selama 4 tahun, malah harus molor setahun lagi.
Stress itu sederhana. Kuliah yang seharusnya bisa diselesaikan selama 4 tahun, malah harus molor setahun lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)