Wednesday, November 18, 2015

Kamu pikir, kamu siapa? Seenaknya datang lalu tiba-tiba pergi begitu saja. Meninggalkan luka yg menganga. Ah, percuma. Kau mana tahu rasanya luka.

Dua bulan berlalu dan aku masih memikirkanmu. Menapaki jejak-jejakmu di kota ini. Menyusuri jalan-jalan setapak yg sering kau lalui, atau bahkan meminum kopi di sudut kafe yg sering kau kunjungi.
Aku mulai menyukai kegiatan ini. Rasanya seperti mengulang-ulang segala sesuatu yg kita lakukan dulu. Dan rasanya kamu masih disisiku.
Kau tahu? Aku sebenarnya benci ketika kau pergi. Aku selalu ditanya tentangmu oleh semua orang. Aku tak tahu harus menjawab apa. Dan akhirnya hanya bisa kujawab dengan senyum tipis dari bibirku, meski hal itu selalu berakhir dengan tangisan kala aku sendirian.
Oiya, kau ingat bunga matahari yg kau berikan padaku dulu? 4 minggu lalu ia berbunga. Indah.
"Bunga matahari ini pasti akan seindah kamu kalau udah mekar." Katamu dulu.
Percuma. Kata-kata itu tak akan ku dengar lagi.
Dua minggu yg lalu, aku pulang ke rumah. Ada salam rindu untukmu, dari ibuku. Kau ingat? Kau paling suka mencium aroma kopi yg baru ditumbuk oleh ibuku. Kau bilang "ini aroma kopi yg paling harum yg pernah kutemukan." Kau pintar sekali mengambil hati ibuku.
Aku juga pergi ke sawah belakang rumah. Padi disana mulai menguning. Kau dulu selalu bilang, "Suatu hari nanti, aku ingin menjadi petani. Tinggal di desa, dan menanam padi di sawah kita." Ada kata kita dikalimatmu. Ah, aku mulai menghayal tentang masa depan kita.
Tentang sebuah rumah sederhana dengan halaman yg luas. Dengan dua anak yg selalu ceria. Aku benar-benar merindukanmu.
Anw, bagaimana kabarmu sekarang? Dimanapun kamu, aku ingin bertemu. Melepas rindu yg membelenggu.
Minggu lalu setelah aku pulang, aku mampir ke kosanmu. Aku bertemu pak Torro. Dia masih saja sibuk dengan burung-burung peliharaannya. Dia juga bercerita panjang lebar tentang kamu. Tentang kebiasaanmu yg selalu menyeduh kopi di teras kosan sambil membaca koran yang hari terbitnya sudah berhari-hari lewat.
"Biar terlihat intelect, pak." Sahutmu ketika pak Torro menanyaimu tentang kebiasaanmu itu.
Pak torro juga bercerita. Ia pernah mencicipi kopi buatanmu, sekali. Ia bilang ia tak mau lagi memintanya. Katanya kopimu sangat pahit. Seperti tak diberi gula. Kamu kan memang tak suka gula.
Katamu,"Aku gak perlu gula, toh ada kamu yg jadi gulaku." Kau memang pintar menggombal, Mas.
Lalu sorenya, setelah dari kostmu. Aku pergi ke warung bu Roni. Membeli makanan kesukaanmu. Sepiring nasi pecel, sepotong hati ayam, tempe, dan rempeyek. Rasa masakan bu Roni masih sama enaknya dengan saat pertama kali kau ajak aku kesana.
"Loh. Tumben sendirian neng. Mas Sakanya gak diajak?" Hatiku terasa dihantam batu besar.
 "Enggak bu." Aku tersenyum.
Tiba-tiba air mataku menetes. Mengingat lagi semua tentangmu. Tentang kita. Tentang tempat yang sering kita kunjungi bersama. Tentang kebiasaan yg sering kita lakukan bersama. Ah, aku makin merindukanmu.
Kau punya janji yg belum kau tepati, mas. Katanya kau akan mengajakku melihat indahnya danau Ranu Kumbolo. Melihat indahnya Indonesia. Kau jahat, mas. Kau pergi tanpa menepati janjimu. Aku membencimu. Isak tangisku makin kencang saat aku ingat terakhir kali aku menemuimu.
Katamu,"Aku benar-benar ingin menghabiskan masa hidupku sama kamu. Menghabiskan masa tua kita bersama. Meski aku sekarang belum punya apa-apa, aku janji bakal bahagiain kamu. Nggak bikin kamu nangis melulu. Biar nggak cengeng." Katamu mencibir.
"Kapan aku cengeng? Aku kan nggak pernah nangis." Aku menggodamu.
"Haa? Yakin nggak pernah nangis? Noh, kapan hari siapa ya yang matanya bengkak pagi-pagi?"
"Itu bukan karena nangis, mas." Aku masih saja membela diri.
"Iya iya, bukan nangis melainkan disengat lebah. Hahaha. Aww" Kucubit keras dipinggangmu. Kau hanya meringis.
"Sakit tau, dicubit. Sini gantian."Aku lari menghindarimu sambil tertawa.
Kau memang selalu menyebalkan, tapi aku menyukaimu. Selalu.
Oiya mas, aku lupa memberitahumu. Aku sudah dapat pekerjaan. Di sebuah perusahaan asing, tambang minyak.
Kau ingat? Jika aku dapat pekerjaan, kau berjanji akan mengabulkan satu permintaanku. Jika kau ingin tahu, pintaku cuma satu, mas. Tetaplah di sisiku. Bersamaku, hingga kita tua. Hanya itu. Iya,  hanya itu mas. Tetaplah disini. Aku semakin menangis menjadi. Dadaku sesak. Aku mengingat-ingat lagi kata terakhirmu malam itu. 
"Aku ingin pulang, Nan. Aku merindukanmu. Benar-benar rindu. Nggak tau kenapa, aku pengen peluk kamu. Aku mencintaimu, Nan. Selalu"
Dan kamu memang benar-benar pulang mas, pulang dengan wajah pucat, berbalut kain putih, dan suara sirine ambulance yang mengaung. Kamu pulang tanpa memberi pelukan untukku. Kau jahat, mas. Tapi aku mencintaimu. Selalu.

Monday, October 5, 2015

Oh.

"Mana ada orang yg tahan melihat kekasihnya berduaan dengan seorang gadis cantik di dalam sebuah ruangan?"
Seruku tanpa melihat matanya.
"Dia itu bawahanku. Aku tak pernah ada main dengan orang lain."
"Ah. Selama ini memang tak pernah. Tp bisa jadi kan? Lagipula dy gadis yg cantik. Mana ada laki-laki yg tak menginginkan dy?" Sergahku padanya.
"Ah, kau ini sebenarnya cemburu padaku atau cemburu pada kecantikan gadis itu?" Skak mat.
Aku mulai berfikir ttg kecemburuanku. Biasanya aku tak pernah peduli jika kekasihku berduaan dengan wanita. Tp kali ini rasanya berbeda. Wanita itu begitu cantik. Begitu polos. Ah andai aku bisa seperti dy.
"Tidak, aku tk pernah cemburu pada kecantikannya." Aku menutupi sebuah kebohongan.
"Kau tahu? Secantik apapun dy. Aku tak akan pernah tergoda. Meski kamu tak seperti dy. Aku bahagia memilikimu. Aku bahagia menjalani hidup kita. Aku bahagia karena kamu selalu ada buatku" Satu kecupan mesra mendarat di keningku.
Ah, aku benci diperlakukan seperti ini.
"Nggak ngambek lagi kan? Ayok. Aku kenalin sama mama. Mumpung mama ada dirumah." Dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan ibunya.
"Ma, kenalin. Ini temenku."
"Oh, temennya Seno? Siapa namanya?"
"Eza, tante. Fahreza."

Thursday, February 12, 2015

A Lemon Night

Sudah hampir satu jam aku di kamar ini. Bersamanya, di malam tepat 8 bulan setelah kami memutuskan berkomitmen untuk sesuatu yg lebih serius.
Kulihat dia, dengan wajah serius sedang berkutat dengan komputernya. Dengan setumpuk kertas yg masih tergeletak disamping meja kerjanya. Katanya masih ada pekerjaan menumpuk yg harus ia kerjakan. Dia membuka lembar demi lembar kertas yg menumpuk tadi, dibaca, lalu jemarinya mulai bergerak diatas keyboard komputernya, berkali-kali. Dan dia mengacuhkanku.

Kualihkan pandanganku ke rak buku yg ada di samping meja kerjanya. Kutelusuri jajaran buku disana, berharap ada buku menarik yg bisa kubaca.

Ah, aku benar2 tak tertarik membaca satu bukupun. Tak ada novel romantis, tak ada komik yg berjajar, atau mungkin beberapa buku tentang psikologi. Yang kulihat hanya sederet buku nasionalisme, buku tentang keuangan maupun buku kewirausahaan. Aku benar-benar bosan menunggu.

Aku mencari perhatiannya.
Kukatakan aku lapar. Dia hanya bilang, "Kalau lapar, makan, sayang. Di depan ada yg jualan bakso. Uangnya ada di dompet di atas lemari" Tanpa melepaskan pandangan dari komputernya.

Lalu, ku gulingkan badanku ke kiri dan kanan. Dan dia bilang.
"Ngapain? Kalau mau tidur, tidur yg bener." Dia masih saja tak melihatku.

"Aku ingin kamu. Aku ingin pelukan." Jeritku dalam hati.

Lalu, ku coba memutar lagu-lagu kesukaannya. Dia tetap tak bergeming. Jemarinya masih sibuk menari diatas keyboard, dan matanya masih tetap lekat memandang layar komputer.
Aku bosan. Lalu kupeluk ia dari balik punggungnya. Tangan kirinya memegang tanganku yg melingkar di pinggangnya. Sedangkan tangan kanannya masih saja menelusuri keyboard.

Dia mencium pipi kananku. Dia bilang, " i'll finish my work then I am yours, okay dear?" Katanya untuk membujukku yg dari tadi hanya cemberut.

"Okay. Do it quickly." Kataku akhirnya. Pasrah.

Setengah jam berlalu, belum terlihat jika pekerjaannya akan selesai.
45 menit kemudian. Lalu satu jam. Ah. Aku benar-benar tak tahan.

"Ngapain tadi minta aku kesini kalo kamu cuma berkutat sama komputermu." Kataku sinis.
"Udah dua jam aku disini dan kamu masih aja memandangi layar itu. Aku bosan." Kuberi penekanan pada kata bosan.
"At least ajak aku bicara. Kalo emang kamu mau fokus nyelesain pekerjaanmu dan tak ingin diganggu, jangan ajak aku kesini. Kamu tahu kan aku bosan kalo nggak ada yg bisa aku kerjakan. Lebih baik aku pu..."
Kalimatku menggantung. Bibirnya sudah menyentuh bibirku, tepat ketika aku mengatakan bahwa aku ingin pulang.

"Maaf karena sudah mengabaikanmu malam ini." Lalu ia memelukku. Erat.
Dia mencium keningku. Ah, aku tahu dia tak ingin aku pulang.

"I've finished my work. Then?"
"You're mine."
Lalu dia kembali mencium bibirku. Kali ini lebih terasa lembut dan hangat.

"If you didn't finish your work, I planned to kill you" kataku padanya yg memandangiku dengan senyum di bibirnya.

"Kalo kamu bunuh aku, siapa yg mau nyuekin kamu? Siapa yg mau meluk kamu kalo lagi nangis? Yg beliin kembang gula?"
Dia melirikku sambil memainkan alisnya naik turun, menggodaku.
"Nyebelin."

Dan kami menghabiskan malam itu berdua, dengan aroma lemon didalam kamarnya.

Friday, November 28, 2014

Seperti Roket

Bukankah sakit? Ketika kau mulai menyukai seseorang lalu mendapati Ia telah berkasih. Lebih memilih orang lain tanpa peduli perasaanmu.
Tapi memangnya aku siapa? Hingga ia harus tahu perasaanku? Pentingkah aku? Kurasa tidak.
Ah, andai rasa sukaku tak berkembang. Andai aku hanya menganggapnya sebagai kawan. Mungkin aku tak akan sekalut ini. Tak akan merasa sakit meski ia berdua dengan kekasihnya. Tak akan memandangi namanya di layar hapeku. Dan tak pernah mengharap satu pesan muncul darinya.
Jika suka tak bisa dicegah, siapa yang harus kusalahkan? Dia? Yg tak pernah tau bahwa rasa sukaku melesat terlalu pesat.
Aku? Yg tak pernah berencana menyukainya sedikitpun.
Atau rasa sukaku? Yg tak pernah memilih kepada siapa ia berlabuh.
Ah, sudahlah. Mungkin Tuhan punya rencana yg lebih indah.
Memang ada saatnya Tuhan memberikan bahagia, dan ada saatnya Dia memberi duka.

Tuesday, April 1, 2014

#Akurapopo

          Bagi saya, stress itu sederhana. Lihat temen-temen seangkatan udah banyak yang lulus, dan saya masih mikirin chapter 3, yeah #akurapopo. Dan malam ini, stress saya datang lagi. Chapter 3 yang masih terbengkalai dalam satu folder, dan hanya 20% done. Kertas referensi yang menumpuk di sudut kamar tanpa saya buka, bukan karena saya tak ingin tapi saya hanya tidak tahu apa yang harus saya tulis. jika saya mulai dengan statement salah satu expert, saya harus punya beberapa expert lagi untuk mendukung statement itu. Ah, skripsi memang tak segampang ngerjain makalah di awal semester.

          Stress itu sederhana. Kuliah yang seharusnya bisa diselesaikan selama 4 tahun, malah harus molor setahun lagi.

Tuesday, November 19, 2013

All I Want is. . . .



Untukmu, yang sering datang lalu menghilang.
Terimakasih untuk waktu yang kau berikan untukku. Terimakasih karena hadirmu membuatku jatuh cinta lagi.
Aku mengenal sosokmu beberapa tahun yang lalu. Saat itu, kamu sudah berdua. Memiliki kekasih dan terlihat bahagia. Dan aku hanya bisa menjadi seorang kawan. Yang akan memarahimu jika kekasihmu lebih dari satu. Akan menjadi seorang kakak, yang akan menasehatimu jika kau masih belum memutuskan hubungan dengan kekasihmu yang lain.
Lalu tiba-tiba kau menghilang, tanpa kabar ataupun selamat tinggal. Aku masih baik-baik saja saat itu, karena aku juga berkasih. Aku masih menganggapmu seorang kawan. Tidak lebih. Setelah menghilang, tiba-tiba kau muncul dengan cerita lain tentang kekasihmu. Kau berganti kekasih, meski masih saja kau punya lebih dari satu kekasih. Dan aku tetap menjadi seorang kawan. Tidak lebih.

Monday, September 30, 2013

Wanita Itu

Malam itu adalah malam satu tahun kami berpacaran. Kami ingin merayakannya di sebuah restoran dekat kantor untuk sekedar makan malam.
"Dia pasti sudah menunggu." Pikirku saat itu.
Di tengah jalan tiba-tiba seorang wanita tak sengaja menabrakku.
"Maaf mbak, saya sedang buru-buru. Maaf jika saya menabrak anda." Dia meminta maaf sambil menunduk.
Wajahnya tak begitu jelas kulihat, tapi yang pasti dia seorang wanita cantik, dengan riasan sederhana, dengan gaun biru langit cerah sederhana, tas hitam minimalis tanpa hiasan, dan seikat mawar merah di genggamannya.

The Dangerous effects of Being Addicted to Energy Drink



         Many people believe that by drinking energy drink they can increase their spirit and their strength. Because of the use of energy drink, many people being addicted to energy drink. They do not know and do not care the dangerous effect of it, whereas energy drink contains of some dangerous materials that are not good for their body.
In the package of energy drink, it is stated that energy drink can help us to maintain our health, make our body fresh, and help metabolism. Although the manufacturers claim that it can improve your endurance and performance, many health experts disagree. Any boost you get from drinking them, they say, is solely from the sugar and caffeine and it is just for short time.

Friday, September 20, 2013

Bukan Salah Bunda

“Ini sudah bulan ketiga!” Teriakku histeris. Menangis beriringan dengan hujan yang tak kunjung henti siang ini. 

Hidupku tak lagi sama. Itu yang aku rasakan. Aku baru saja menamatkan sekolahku di tingkat menengah atas. Hidupku tak lagi sama dengan hidupku yang dahulu. Dulu, aku masih bisa tersenyum, tertawa, meski kadang aku tetap menangis tapi sekarang hariku hanya dipenuhi dengan tangis, keluhan, dan kadang kebencian.
 
Beberapa tahun yang lalu aku mengenalnya.

Wednesday, June 26, 2013

The Dialect of Bojonegoro

Bojonegoro is one of small cities in East Java. It's located next to Lamongan and Tuban. Although it's small city, Bojonegoro also has some cultures, tourism objects, and some dialects. In this post, I want to tell you about the dialect of Bojonegoro. These are the example of dialect in Bojonegoro:

Sunday, June 23, 2013

7 Reasons You Should NEVER Skip Breakfast

Do you eat breakfast regularly? Many people find that they are often too busy in the morning to have breakfast. Some just say that they aren’t hungry enough when they wake up to want to eat anything substantial. Those who don’t eat breakfast could potentially be doing more harm to their bodies than good. Studies show that there are several important reasons to eat breakfast every single morning, no mater how busy you are and even if you aren’t very hungry. Listed below are 7 reasons to eat breakfast every morning and why it is so vital.

1. People who eat breakfast are actually healthier overall. Some people are under the huge misconception that not eating breakfast saves calories that you can then use throughout the day when you become hungry. This is not true. When you eat a reasonable and healthy breakfast in the morning, you are actually regulating your blood sugar levels. When you don’t eat breakfast in the morning, you may find that you get hungry much more quickly throughout the day because your stomach is empty.

 2. Eating breakfast helps manage weight. If you are looking to lose weight or maintain recent weight loss, eating breakfast is crucial. Eating a small, sensible breakfast will help you curb hunger throughout the day. When you already have good, sustainable food in your system, you are less likely to reach for the junk you may be surrounded by while going about your day.

3. Breakfast gives you energy. If you skip breakfast in the morning, you are essentially running on fumes. You need all the nutrients present in a healthy breakfast to help you perform correctly at work or school. If you don’t eat breakfast in the morning, you may have to wait up to 12 hours since your last meal before you can eat again. Your muscles need glycogen for energy and will end up being depleted if you haven’t eaten anything.

4. Those who eat breakfast in the morning are mentally sharper. Everyone wants to be alert and attentive during the day. Certain breakfast foods have been proven to give you a brain boost and will help you perform your daily duties with a sense of heightened clarity and awareness.
 5. You will miss proper vitamin and nutrient intake if you skip breakfast. So many people who choose to skip breakfast at the start of the day will not make up for the nutrients that they missed by skipping that meal.
6. Of all the 7 reasons to eat breakfast, this next one is probably one of the most important. If you eat breakfast in the morning, you will be less hungry throughout the day. This is especially important for those who are watching their weight and want improved health. Those who eat breakfast are less likely to overeat, and thus consume more calories than necessary, throughout the day. Overeating throughout the later part of the day is directly related to weight gain.

7. Lastly, eating breakfast every morning sets a good example. This is especially important if you are raising a family. With the growing number of health concerns in this country, setting a positive and healthy example for your kids is so crucial to their continued health and awareness as they get older. Show them the importance of healthy nutrition and don’t skip the most important meal of the day: breakfast.

[box] References: jhsph.edu/offices-and-services/student-affairs/_documents/Breakfast
livestrong.com/article/511962-five-reasons-why-you-should-eat-breakfast/
huffingtonpost.com/2012/10/16/health-benefits-breakfast_n_1968248.html
[/box]


Untukmu, dariku



Untukmu.
Pengakuan dari hatiku.

Kamu, yang telah menyita perhatianku lebih dari 3 semester.
Maaf karena sepertinya akhir-akhir ini aku menyusahkanmu, bahkan mungkin membuatmu malu dan enggan mengenalku. Sungguh, aku tak ingin melakukan itu. Jika aku bisa memilih, aku akan lebih memilih menikmati perasaan kagumku terhadapmu sendiri, tanpa berbagi kepada siapapun. 

Kamu, yang terkadang membuat pipiku merah padam.
Maaf, karena aku sudah lancang mengagumimu. Aku tahu, kau sudah berkasih. Berdua dengannya selama 5 tahun. Sungguh aku tak ingin merusak kebahagianmu. Aku hanya ingin mengagumimu, melihatmu diam-diam ketika kau lewat, atau menjelajahi tiap sudut akun facebookmu tanpa sepengetahuanmu. Aku hanya ingin menikmati semua yg kulakukan diam-diam terhadapmu. Maaf juga, karena aku sering berjalan di belakangmu dan menatapmu senang, kagum, ah aku sendiri tak tahu harus kusebut apa rasa yang ada ketika aku melihat kau di balik punggungmu. Tapi yang perlu kau tau. Semua itu sudah membuatku senang.

Tragedi Mei 1998

Saya memang bukan mahasiswa yang akan ikut demonstrasi ketika harga BBM naik, atau demonstrasi terhadap pemerintahan -yang katanya- carut marut, demonstrasi melawan para koruptor yang bisa melenggang bebas meski ia sedang dipenjara. Tapi ketika saya melihat Video tragedi Mei 15 tahun lalu, saya merinding, pasti. Melihat betapa gigihnya mahasiswa untuk memperjuangkan reformasi, menantang peluru-peluru dari pistol para militer, menerjang gas air mata yang disemprotkan untuk mendorong mundur para mahasiswa. Merinding mendengar cerita dari ibu korban yang kehilangan anaknya karena tragedi itu. Merinding melihat video Jogja plaza yang terbakar -atau mungkin dibakar- yang berisi puluhan jiwa yang tidak bersalah, bahkan ada banyak anak kecil disana. Dan tragedi itu seharusnya membuat kita sadar. Banyak jiwa yang terenggut disana, dan seharusnya kita menghargai pengorbanan mereka. Pengorbanan berpuluh-puluh nyawa hanya untuk memperjuangkan reformasi. Seharusnya hari ini kita -mahasiswa- juga harus bisa menghargai perjuangan mereka. Bukan dengan membakar fasilitas publik hanya untuk menunjukkan aksi protes kita, bukan dengan menjarah toko-toko dengan atas nama mahasiswa, tapi dengan berusaha menjadikan negara kita lebih baik, menjadikan negara kita lebih maju jauh dari 15 tahun yang lalu.

Sepenggal video dari kesaksian para orang tua korban dan korban tragedi Mei 1998 disaat Jogja Plasa terbakar. Semoga video itu bisa memberi kita pelajaran berharga, untuk membuat Indonesia lebih baik.

Saya, Mahasiswa Tingkat Akhir

Aku yakin, semua orang bisa berubah. Siapapun, kapanpun. Termasuk aku, kamu, atau bahkan mereka. Akhir-akhir ini aku merasa duniaku berubah. Tidak menjadi lebih baik, lebih buruk, mungkin. Yang aku tahu, sejak tugas akhir menggelayuti pikiranku, tidurku tak lagi teratur. Aku yang biasanya bisa terlelap ketika denting suara besi yang dipukul oleh beberapa orang siskamling berbunyi, kini harus nmengorbankan beberapa jamnya untuk pergi ke warnet. Menembus angin dingin malam di kota kecil ini, Jember. Sebenarnya aku ingin pergi ke warnet siang hari, agar malamnya aku bisa istirahat, meski barang sejam dua jam. Tapi tarif paketan warnet yang murah, membuatku nekat. Menaiki motor tengah malam, menghabiskan malam di warnet, dan kadang harus menolak rasa kantuk agar tetap terjaga.

Tugas akhir memang menghabiskan tenaga, pikiran, dan mungkin bahkan uang. Tidak sedikit dari kami, mahasiswa yang harus merelakan jam tidurnya, merelakan malam mingguan mereka bersama kekasih, atau bahkan merelakan jadwal pulang kampung yang sudah menjadi tradisi tiap weekend atau selama liburan semester. Tugas Akhir membuat mahasiswa tingkat akhir menjadi sangat rajin. Hampir setiap hari, kami harus mengantre untuk menemui Dosen Pembimbing, belum lagi dosen yang jual mahal dan super sibuk, kami harus benar-benar bersikap sabar menghadapi dosen-dosen itu. Pagi-pagi sekali kami harus pergi ke kampus, duduk berjejer menunggu dosen. Kadang harapan kami sia-sia. Dosen bilang akan datang jam 9, tapi tak jarang mereka baru datang pukul 12, atau bahkan tidak datang sama sekali. Dan kami hanya bisa memaki pada diri sendiri, karena kami mengerti pekerjaan dosen tidak hanya membimbing mahasiswa tingkat akhir dengan skripsi mereka. Dosen juga punya pekerjaan lain. Mereka harus menyiapkan materi untuk perkuliahan mereka, belum lagi mereka harus menyediakan waktu mereka untuk keluarga. Untuk suami, istri, anak, ataupun untuk ibu bapak mereka.

Aku paham, dosen sibuk dengan kehidupan mereka selain dengan bimbingan skripsinya, tapi disisi lain mahasiswa tingkat akhir juga ingin cepat mendapat gelarnya. Dan pada akhirnya, Dosen dan mahasiswa seharusnya harus menciptakan hubungan simbiolis mutualism di waktu yang tepat. Dosen harus berkomitmen dan menyediakan waktunya untuk mahasiswa tingkat akhir, dan mahasiswa harus bisa mengikuti alur yang diciptakan oleh dosen. Karena mereka berkesinambungan.

Sunday, June 2, 2013

Iklan Asuransi yang Mengharukan

Dari judul postingan ini pasti kalian tahu kalau saya akan membahas tentang iklan. Sebenarnya bukan membahas, tapi saya akan menunjukkan satu video yang bisa membuat anda menangis dan terharu. Menurut saya ini bukan iklan sembarang iklan yang selalu menomorsatukan komersial atau daya jual. Iklan ini mengajarkan kita tentang bersyukur. Check this out guys.


There are no perfect fathers, but a father will always loves perfectly.
Remember to care for those who cares for you....

MALIQ & D'essentials - Setapak Sriwedari

Buka facebook temen, dan nggak sengaja nemuin video ini..
saya dengarkan sekali, dan saya jatuh cinta dengan lagunya..
love this song...


Suara hati kita bergema melantunkan nada-nada..... Melagu tanpa berkata seperti syair tak beraksara....

Sunday, May 26, 2013

Orang ke-3

Suka banget sama video ini. Sumpah dah. Check this out.


 Maaf bila aku jatuh cinta... Maaf bila kusuka...


Sepuluh Menit



Ini kisahku beberapa hari yang lalu.

Aku bertemu dengannya, lelaki berkaos hitam dengan celana pendek jeans hitam. Ia berjalan memasuki ruangan sempit toko aksesoris itu. “Mogi Mogi” namanya. Aku melihatnya, suka. Itu kata pertama yang kuucapkan. Aku menyukainya. Padahal hari itu pertama kali kita bertemu.

Kukira ia sendirian, ternyata seorang gadis berjilbab berjalan mengekorinya. Kecewa? Pasti.

Aku dan Seorang Sahabat



It’s good having a new nephew but it’s not good being called “auntie”.

Itu pikiran pertama yang menghinggapiku ketika salah seorang sahabatku mengabarkan bahwa anak pertamanya telah lahir dengan selamat. Aku bahagia, pasti. Dia salah satu sahabat terbaikku, meski aku sering beradu argumen dengannya. Kami individu yang sangat berbeda.

Wednesday, May 22, 2013

Namaku Lana!



Namaku Lana, usiaku 21 tahun. Ibuku seorang pelacur bapakku seorang pemabuk. Aku terlahir di perkampungan kumuh pinggiran Jakarta.

Sejak sebelum aku lahir, ibuku bekerja sebagai pelampiasan nafsu lelaki hidung belang. Ia menjadi bulan-bulanan di ranjang hotel dekat kampungku. Ia bergonta ganti pasangan setiap malam. Hingga suatu pagi, ibuku mual-mual. Hamil.

Namaku Lana, usiaku 21 tahun. Bapakku, tiap pagi-pagi buta ia pulang dengan bau alkohol yang menyengat dari mulutnya. Ia membanting pintu kasar. Lalu berteriak meminta makanan. 

Namaku Lana. Semua orang dikampungku tau siapa aku.